Bulughul Maram : Penjelasan Tentang Wudhu
Setelah al-Haafizh Ibnu Hajar menyampaikan hukum-hukum yang berkenaan dengan menghilangkan Najis, maka beliau melanjutkan dengan pembahasan mengangkat hadast yang merupakan bagian lain dari thaharoh (bersuci). Beliau memulai dengan wudhu yang merupakan cara menghilangkan hadats kecil.Hubungan pokok bahasan wudhu dengan sebelumnya, di sini penulis setelah menjelaskan tentang air yang digunakan untuk bersuci dan yang mempengaruhinya dari najis-najis. Juga telah menjelaskan bejana tempat menampung air, maka beliau mulai menjelaskan maksud dari semua penjelasan yang lalu yaitu wudhu. Sehingga semua hadits yang telah lalu adalah sarana yang mengantar kepada ibadah wudhu yang akan beliau jelaskan dalam pokok pembahasan ini.
- Pengertian Wudhu
perbuatan dan dengan difathahkan huruf wawunya bermakna air yang digunakan untuk berwudhu. Secara pengertian bahasa kata (الْوُضُوْء) bermakna kebersihan dan bersinar. Seorang penyair Arab pernah berkata:
أَضَاءَتْ لَهُمْ أَحْسَابُهُمْ وَوُجُوْهُهُمْ
دُجَى اللَّيْلِ حَتَّى نَظَّمَ الجَزْعَ ثَاقِبُهُ
Kedudukan dan nama besar mereka menyinari untuk mereka
terangnya malam hingga bintang menyusun pelangi
Dinamakan wudhu demikian karena
memperindah pelakunya di dunia dan akherat. Di dunia dengan
menghilangkan kotoran dan di akherat dengan memberinya cahaya,
sebagaimana dalam sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ
القِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الوُضُوءِ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ
مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ
Sesungguhnya umatku diseru di hari kiamat
dalam keadaan bersinar wajah dan kedua tangan dan kakinya dari bekas air
wudhu. Maka siapa yang mampu dari kalian untuk memanjangkan sinarnya
maka perbuatlah. (Muttafaqun ‘Alaihi).
Pengertian secara istilah syariat
Wudhu dalam istilah syariat adalah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan mencuci empat anggota tubuh dengan tata cara tertentu. Atau dengan definisi :
اِسْتِعْمَالُ الْمَاءِ فِي
اْلأَعْضَاءِ اْلأَرْبَعَةِ -وَهِيَ الْوَجْهُ وَالْيَدَانِ وَالرَّأْسُ
وَالرِّجْلاَنِ- عَلَى صِفَةٍ مَخْصُوْصَةٍ فِي الشَّرْعِ، عَلَى وَجْهِ
التَّعَبُّدِ لِلَّهِ تَعَالَى
Menggunakan air pada anggota tubuh yang
empat -wajah, kedua tangan, kepala dan kedua kaki- menurut tatacara
tertentu dalam syar’i dalam rangka beribadah kepada Allah Ta’aala.
(Al-Fiqh al-Muyasar, hlm 33).
- Keutamaan-Keutamaan Wudhu
- Wudhu menjadi sebab ampunan dari dosa-dosa seperti dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau :
مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ
“Barangsiapa yang membaguskan wudhu
keluarlah dosa-dosanya dari jasadnya sampai keluar dari bawah kukunya.”
(HR. Muslim no. 245)
Dalam sebuah hadits di mana Utsman berkata,
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا وَقَالَ مَنْ
تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ
فِيهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu seperti wudhuku ini dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda : ‘Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian
shalat dua rakaat tidak berkata-kata di jiwanya (khusyu’), maka Allah
akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.’” (HR. Bukhari no. 159 dan
Muslim no. 423)
- Wudhu menjadi sebab masuk syurga dari pintu yang mana saja, seperti ada dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ – الْوُضُوءَ
ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ
الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ
“Tidaklah salah seorang di antara kalian
berwudhu dan sampai selesai atau menyempurnakan wudhu kemudian membaca
doa : “Aku bersaksi tidak ada ilah (sesembahan) yang berhaq disembah
kecuali Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah
dan utusan-Nya, melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga
yang dia bisa masuk dari pintu mana saja yang dia kehendaki.”
Dalam sebuah riwayat : “Aku bersaksi tidak
ada ilah (sesembahan) yang berhaq disembah kecuali Allah semata yang
tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah
hamba Allah dan utusan-Nya” (HR. Muslim)
- Wudhu akan memberikan cahaya pada anggota wudhunya di hari kiamat seperti dijelaskan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau:
إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ
القِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الوُضُوءِ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ
مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ
Sesungguhnya umatku diseru di hari kiamat
dalam keadaan bersinar wajah dan kedua tangan dan kakinya dari bekas air
wudhu. Maka siapa yang mampu dari kalian untuk memanjangkan sinarnya
maka perbuatlah. (Muttafaqun ‘Alaihi).
- Wudhu adalah syarat terpenting dalam shalat, berdasarkan hadits Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ»
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak diterima sholat orang yang berhadats hingga berwudhu. (HR. Bukhari no. 135 dan Muslim no. 225)
Demikian juga dijelaskan dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: «لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُوْرٍ»
Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Tidak diterima sholat tanpa bersuci". (HR. Muslim no. 224)
- Bersuci termasuk di dalamnya wudhu adalah separuh sholat, seperti disampaikan Abu Malik al-‘Asy’ari radhiyallahu ‘anhu ketika berkata:
الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ
"Bersuci adalah separuh iman". (HR Muslim). Dan dalam lafazh lainya:
الْوُضُوْءُ شَطْرُ اْلإِيْمَانِ
"Wudhu adalah separuh iman". (HR Ibnu Abi
Syaibah dalam al-Mushannaf dan di dhaifkan Syeikh al-Albani dalam
Silsilah Ahadits Dhaifah no. 4762). Dalam riwayat lainnya:
إِسْبَاغُ الْوُضُوْءِ شَطْرُ اْلإِيْمَانِ
"Sempurnanya wudhu adalah separuh iman".
(HR an-Nasaa’i dan Ibnu Maajah no. 280 dan dishahihkan al-Albani dalam
Shahih Sunan an-Nasaa’i dan Shahih al-Jaami’ no.925). Imam an-Nawawi rahimahullah merojihkan maksud dari iman disini adalah sholat seperti dalam firman Allah Ta’ala:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ
Sesungguhnya Allah tidak akan
menyia-nyiakan sholat kalian. (Qs al-Baqarah ). Bersuci adalah syarat
sahnya sholat sehingga menjadi seperti separuhnya. Tidak mesti kata
separuh (الشَّطْرُ) berarti setengahnya secara hakiki. (Syarah Shohih Muslim 3/102).
Wallahu a’lam.sumber:http://klikuk.com/bulughul-maram-penjelasan-tentang-wudhu/
